Membawa Energi Matahari ke Rumah Sendiri

Membawa Energi Matahari ke Rumah Sendiri

Kian nyatanya ancaman perubahan iklim memicu kita didorong untuk makin cepat beralih ke sumber kapabilitas terbarukan yang ramah lingkungan. Langkah kongkretnya adalah kurangi penggunaan kapabilitas fosil.
Menurut Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa, Indonesia sejatinya kaya bisa kapabilitas terbarukan yang bisa dipilih sebagai sumber kapabilitas pengganti berasal dari Sabang sampai Merauke. Mulai berasal dari yang berasal berasal dari tenaga surya (matahari), tenaga angin, arus air, sampai panas bumi.

“Tetapi yang benar-benar besar itu potensinya adalah kapabilitas matahari. Dari perhitungan kami, potensi kapabilitas surya Indonesia itu terhadap 3,4 terawatt sampai 20 terawatt. Ini 12-74 kali lebih besar berasal dari angka yang dikeluarkan pemerintah. Karena pemerintah cuma bilang potensi kapabilitas surya cuma 273 gigawatt, namun kita bilang tidak,” paparnya di sela Media Camp Huawei Indonesia di Raja Ampat, Papua Barat kasir pintar

Baca juga:
Indahnya Gerhana Matahari Cincin Api di Berbagai Negara
“Artinya sampai th. 2050 kalau seluruh kapabilitas kita diganti bersama dengan kapabilitas terbarukan yang berasal berasal dari tenaga matahari — bersama dengan catatan seluruh potensi sumber kapabilitas itu dijadikan listrik yang mana menjadi tren saat ini — bersama dengan potensi yang mencapai 3,4 sampai 20 terawatt itu maka sesungguhnya seluruh kebutuhan kapabilitas Indonesia bisa dipenuhi oleh kapabilitas surya,” Fabby melanjutkan.

Nah, kalau malam hari gimana, matahari kan cuma muncul siang? Di sinilah peran teknologi baterai sebagai area untuk menyimpan listrik yang dihasilkan terhadap siang hari. Potensi teknologi baterai di jaman saat ini ini tentu terbuka lebar, jadi berasal dari sistem manajemennya, kapabilitas tahan, sampai teknologi inverter yang menyertainya.

“Ini yang menjadi penting, Kita memerlukan teknologi penyimpan kapabilitas besar, inverter yang bisa menyediakan kapabilitas layaknya pembangkit listrik termal yang memiliki rotational power. Jadi kalau listrik mati bisa menyala lagi,” kata Fabby.

Dari segi penyerapan tenaga kerja pun dibangunnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bisa menghasilkan kesempatan ‘kerja hijau’ yang signifikan. Dalam perhitungan AESI, untuk 1 PLTS yang terbangun itu bisa menyerap 30 ribu lapangan kerja dan pengaruh ekonominya termasuk besar.

Selain itu, PLTS termasuk bisa dipakai di seluruh permukaan, jadi berasal dari daratan, danau sampai lahan pertanian termasuk bisa. Termasuk bisa dikerjakan tak cuma oleh pemerintah, melainkan termasuk oleh penduduk luas untuk mempunyai kapabilitas matahari ke area tinggal mereka sendiri.

“Coba kalau kapabilitas panas bumi itu investasinya besar sekali, tiap tiap megawatt itu USD 5-7 juta. namun kalau PLTS meski skala kecil namun kalau banyak itu berasa, dan bisa melibatkan gotong royong masyarakat,” Fabby menambahkan.

Baca juga:
Langka! Foto Detail Permukaan Matahari
Pun demikian, pemerintah dianggapnya terkesan tetap khawatir pengaruh usaha yang bisa terjadi. Padahal sejatinya kalau dibilang PLTS itu mahal itu namun secara capital cost itu bisa turun drastis.

“Kalau PLTS skala kecil itu Rp 15 juta per kilowatt. Kalau skala besar bersama dengan skema zero capex, tarif listriknya itu bisa 15% lebih tidak mahal berasal dari langkah konvensional. Usulan ke pemerintah untuk menyediakan pembiayaan berbunga rendah bagi PLTS skala kecil di rumah, agar penduduk tidak berat untuk investasi di awal,” tutup Fabby.

Leave a Comment